Bagi petani, keong sering kali menjadi momok karena keberadaannya menjadi hama tanaman padi. Namun di Purwokerto, keong justru bisa dimasak dan dinikmati layaknya masakan biasa. Bahkan banyak orang rela antre untuk mendapakan seporsi keong yang sudah dimasak dengan kuah ini. Keong yang diolah adalah keong sawah. Sebelum diolah, cangkang keong dipecahkan untuk membuang kotorannya. Setelah itu keong direndam selama satu malam.
Keesokan harinya, setelah diramu bumbu yang terdiri dari cabai, kunyit, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan aneka rempah termasuk jahe. \"Mirip seperti bikin bumbu rica-rica. Setelah itu, keong yang sudah direndam dicuci bersih dan dimasak bersama bumbu selama 4 jam agar meresap, ujar Lany, pemilik kedai sayur keong.
Dalam satu hari, bisa memasak sekitar 100 kilogram keong yang hanya bertahan selama 2 jam saja. Mulai pukul 10.00 WIB, pembeli sudah antre di rumah makan yang terletak di Jalan Kauman Lama nomor 31 Purwokerto Utara. Tak sampai pukul 12.00 siang, keong biasanya sudah ludes.
Tak jarang orang membeli dalam jumlah kiloan. Keong yang langsung dimakan di tempat disajikan bersama tusuk gigi. Fungsinya untuk mencungkil bagian daging keong agar bisa diseruput langsung dari cangkangnya. Keong ini jarang disantap dengan nasi.
Biasanya, pembeli menikmati sebagai camilan atau bukan dijadikan sebagai lauk. Rasa sayur keong ini pedas dan gurih. Lany sendiri tak menyangka respons yang luar biasa terhadap keong buatannya melejitkan usahanya sampai membuat pelanggannya banyak yang rela datang dari Yogyakarta bahkan Jakarta.
\"Awalnya saya hanya suka main di sawah dan sering lihat keong,\" ujar Lany. Ternyata saat coba-coba memasak keong, kok malah enak, katanya. Keong yang diolah Lany didatangkan langsung dari Demak. Konon, menurut para peneliti keong banyak mengandung protein yang dibutuhkan tubuh.
Sumber: potensidaerah.ugm.ac.id